Hana Isnaini Al Husna

Buatlah Satu Orang Bahagia Hari Ini

GOAL

Pesta Piala dunia 2010 sebentar lagi akan berlangsung, bagi yang maniak bola pasti tidak akan melewatkannya. Teringat aku sewaktu nonton film yang berjudul Goal ! film tahun 2005 yang disutradarai oleh Danny Cannon. Film ini dibuat dengan kerjasama dari FIFA, yang merupakan salah satu alasan pemain tim aktual dan digunakan diseluruh film. Film ini dengan pemain utamanya kuno becker sebagai Santiago Munez (tokoh utama), seorang anak yang digambarkan dalam film itu hidup dengan keluarga yang sangat sederhana, seorang ayah, nenek, dan adiknya. Sejak masih kecil dia ditinggal oleh ibunya karena berpisah dari ayahnya.

Read the rest of this entry »

Go Beyond Limits

Tulisan saya kali ini sebenarnya meminjam tema  “tupperware” yang pernah aku baca dan dengar pada suatu acara. Boleh dan sah-sah saja meminjam tema ini dikarenakan ada petuah didalamnya. Bukan karena aku promosi dagangan disini, namun lebih ke “value” dari kata-kata itu bisa menyemangati aku untuk bisa maju, percaya diri, dan terus bermanfaat buat orang lain. Sebagai seseorang yang terbiasa menjiplak ide dan terinspirasi dengan ide seseorang diharuskan menuliskan sumber agar tidak disebut “plagiator” (alasan buat pembetulan diri sendiri-red).

Read the rest of this entry »

Penjual Gorengan itu

Ini adalah sepenggal cerita kekagumanku kepada seorang ibu penjual gorengan yang aku kenal sejak aku duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMA). Ibu yang lugu, sederhana dan murah senyum. “Beli gorengan empat saja boleh bu?” tanyaku sambil mengeluarkan uang Rp. 2000,00. “Eh mbak Hana, boleh mbak silakan ambil” kata ibu itu dengan “sumeh” (murah senyum-red) , maklum waktu itu aku masih menjadi anak kost. Hampir setiap hari aku sambangi tempat jualannya hanya sekedar untuk mencicipi “tahu susur” nya yang enak sekali, gurih dan renyah.

Suatu hari tempat yang biasa untuk mangkal jualan itu sepi sekali “wah, hari ini sepertinya ibu ini tidak jualan”, “apakah ibu ini sakit?”, “atau mungkin hari ini saja ibu itu tidak jualan, ya sudah aku tunggu saja besok”. Namun kecurigaanku semakin bertambah, hari demi hari berlalu ibu itu tak kunjung berjualan. Kerinduanku akan “gorengan” nya yang renyah membuatku memberanikan diri mencari rumah ibu itu, dan bertemulah aku dengan anaknya yang sedang menyapu halaman.

Kuberanikan diri bertanya “mbak, ibu kok tidak jualan gorengan lagi?, apakah ibu sakit ata baru pergi?”, anaknya menjawab “oh ibu sudah capek mbak jualan gorengan, lagin beberapa hari ini hujan turun terus menerus, sehingga banyak gorengan yang tidak laku, dan akirnya ibu malas jualan lagi”. “duh, mbak saya seneng banget sama tahu susurnya, kapan ya mbak ibu jualan lagi, titip pesen saja buat ibu agar segera jualan lagi ya mbak”. Begitu percakapan kami yang diakhiri dengan permohonan agar ibu itu bisa segera jualan gorengan dengan pesan agak memaksa “segera ya mbak”.

Kudapati beberapa minggu setelahnya ibu itu tetap berjualan, hingga detik ini tulisan ini aku buat. Meskipun aku tidak bisa setiap hari membeli gorengan, karena keadaan yang mengharuskan aku harus pindah tempat tinggal, seingga lama aku tidak bertemu ibu “penjual gorengan”  itu, mungkin kurang lebih 8 tahunan.

SubhanAllah, sungguh Allah Maha Besar, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuasaan Allah, tidak ada yang bisa menjamin rejeki kecuali Allah yang Maha segalanya. Betapa terkejutnya aku ketika aku bertemu ibu “penjual gorengan” yang saat itu sama-sama mengikuti manasik haji disebuah bimbingan haji di kota jogja tercinta ini. Ibu “penjual gorengan” itu menyapaku “Mbak Hana, pripun kabare (bagaimana kabarnya-red)?”. Kaget bercampur haru ketika Ibu “penjual gorengan” itu beserta suaminya akan berangkat haji tahun 2009.

Betapa gigih ibu itu berjualan gorengan setiap sore dan akhirnya bisa menunaikan Ibadah Haji bersama dengan suaminya tercinta. AllahuAkbar, aku teringat pengajian yang disampaikan di Masjid dekat Maktabku waktu itu, bahwa yang bisa mengukur kita mampu menunaikan ibadah haji itu bukan siapa-siapa, tetapi diri kita dan ALlah. Ukurannya bukan sudah punya mobil, bukan karena punya rumah, atau anak-anak sudah besar, menurut imam masjid itu kata “mampu” sebagai syarat diwajibkannya Haji bagi seseorang adalah mampu dalam mental dan materi. Jika seseorang itu sehat dan punya harta senilai ONH = Ongkos Naik Haji saat itu, itu artinya orang itu sudah wajib haji, apabila dia meninggal dan belum sempat menunaikan ibadah haji, maka dia telah berhutang Haji, yang artinya hutang itu harus dibayarkan oleh ahli warisnya yang paling dekat, kalau bapak maka yang bisa membayarkan adalah anaknya, begitu seterusnya.

Ibu penjual gorengan dengan rumah yang sederhana, dan hidup yang juga begitu adanya telah menginspirasiku untuk bersemangat untuk lebih dalam menggapai Ridhlo Allah. Berharap juga agar aku bisa lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi. Terilhami oleh kata-kata dokter Retno Danarti Maharika, diawali dengan baik, tengahnya baik dan diakhiri dengan baik, begitu kira-kira meskipun masih banyak sekali kekurangan disana-sini dan ketidaksempurnanya aku sebagai manusia. Tulisan ini bukan merendahkan seorang ibu penjual gorengan, akan tetapi justru sebaliknya betapa aku terharu dan kagum dengan ibu itu.

Sampai sekarang aku masih sering mampir untuk sekedar silaturrahim sambil membeli “tahu susurnya” meskipun hanya 4 buah. Semoga kita selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari ini.

Penderita Diabetes Militus

Pagi ini aku datang ke poli Gereatri, saat aku dirujuk oleh suster masuk ke poli itu aku sempet bertanya apa artinya Gereatri ? suster itu menjawab “tempat untuk orang-orang yang sudah lanjut usia”, Masya Allah pikirku..”lalu sus, kenapa aku dirujuk kesana?” suster itu menjawab ” ya karena penyakitnya mbak ini masuk kelompok ini”….hmm aku mengikuti suster itu sambil berguman “ya Allah…..hmm”.

Kulihat dideretan bangku tunggu, banyak sekali pasien lansia menunggu giliran panggilan periksa…pagi ini sengaja aku datang awal agar kerjaku tidak terganggu. Seorang Bapak yang didorong dengan kursi roda oleh laki-laki separuh baya tersenyum padaku sambil permisi duduk disebelahku. Wajahnya berseri-seri dan tersenyum padaku…wah giginya utuh putih bersih (maaf aku tau itu bukan gigi palsu-red). Sesaat kemudian, aku bertanya “sakit apa pak?” dia dengan suara yang santun menjawab “diabetes militus”. Bapak ini berusia 83 tahun bulan september tahun ini katanya…tetapi guratan kebahagiaan tampak sekali di wajahnya, bahwa beliau tidak merasakan sakit dalam dirinya. Lama kami berbincang karena bapak itu semangat sekali dalam bercerita. Usia yang sudah sepuh membuatku sadar bahwa serasa ada sesuatu yang membuat dia ingin selalu ingin bercerita panjang lebar kepada siapa saja yang dijumpainya, mungkin karena rindu akan suasana waktu dulu masih aktif menjadi guru, atau beliau tidak lagi banyak ketemu dengan teman karibnya, atau putra-putrinya yang sangat jauh, akhirnya aku dengan senang hati menemaninya untuk sekedar bercerita.

Wajahnya putih bersih, saat aku menjabat tangannya aku berkata dalam hatiku  “sepertinya Bapak ini sangat disiplin sekali dalam hidupnya, sehingga meskipun beliau menderita diabetes beliau tidak nampak  menderita sedikitpun. Bapak itu berkata “penyakit diabetes militus ini adalah tamu yang saya tunggu-tunggu mbak, karena 8 saudara saya semua terkena diabetes dan sudah banyak yang meninggal, jadi diabetes bagi saya kan keturunan sehingga pasti datangnya dan ternyata datangnya pada saat usia saya 45 tahun”. Nah, kalau kedatangan tamu itu yang harus dilakukan adalah menyambutnya dengan suka cita, menjamunya dengan jamuan yang dia suka, melayani apa kemauan dia. Nah ibaratnya tamu, diabetes ini harus saya layani sebagaimana tamu, misalnya diabetes itu tidak boleh makan/minum manis ya saya layani seperti itu, kalau waktunya minum obat ya saya minumi obat, dan begitu seterusnya. Sehingga tamu tadi senang dengan saya dan bersahabat dengan saya. Kalau harusnya diet kok saya tidak layani, hasilnya diabetes tadi akan menjadi musuh saya, begitu seterusnya.

Prinsip bahagia bagi penderita diabetes adalah kuatkan iman, artinya yakin bahwa Allah itu tidak pernah menyiksa hambaNya. Dengan keyakinan itu saya tidak pernah merasa bahwa diabetes itu menyiksa saya, tetapi sebaliknya diabetes adalah anugrah yang diberikan Allah pada saya, yang mau tidak mau harus saya hadapi. Yang kedua bersyukur, dari rasa bersyukur itu akhirnya saya tau bahwa dengan penyakit ini saya merasa menjadi seseorang yang disayang sama Allah, dimana saya harus bersabar dalam menghadapi.

Tak lama kemudian disela-sela perbincangan kami, seorang ibu yang sudah “sepuh” juga berkata “Bapak jangan kebanyakan cerita, nanti hipo lho” mungkin yang dimasukkan hipo adalah hipoglikemi. Dan Bapak itu langsung menurut, “kalau istri saya sudah bilang begitu saya harus menurut mbak, karena kalau tidak kalau ada apa-apa istri juga yang susah.

Bapak itu ternyata pernah menjadi narasumber dalam dialog interaktif dengan penderita diabetes militus. Jadi menjadi contoh bahwa penderita diabetes ada juga yang selalu bahagia dengan kiat-kiat yang disampaikan tadi.

Dalam perenungan saya berarti Bapak tadi menderita penyakit diabetes itu sudah lama sekali yaitu sejak beliau usia 45 - 83 nanti bulan september, dan beliau selalu bilang kepada teman-teman sesama penderita yang lain bahwa yang selalu dia hindari adalah komplikasi. Kemudian yang harus dilakukan adalah disiplin yang artinya di : dilarang, si = sikap, plin : plintat-plintut. Begitu seterusnya beliau bercerita dengan semangatnya sampai ada suster yang memanggil giliran beliau untuk masuk ke ruang periksa.

Kisah Raja Fir’aun VS Nabi Ayub As

Sejak sore hatiku gundah sekali, ada pikiran yang mengusik hatiku, aku hilangkan tetap saja tidak mau hilang. Sebuah fikiran yang menuntut keadilan Allah, Astaghfirullah, sebenarnya aku sangat takut kufur atas nkmat Allah tetapi sungguh pertanyaan itu selalu menghantuiku siang dan malam. Mungkin seandainya didengar oleh orang alim pertanyaan itu sangat bodoh mengingat Allah adalah maha segalanya, “mengapa ya aku ya sholat, ngaji, puasa, zakat, tapi kok aku masih diberi sakit, penderitaan, cobaan yang tiada henti. Apakah banyak sekali dosa-dosaku sehingga Allah tidak sayang lagi sama aku. Sehingga Allah memberi teguran sama aku. Lama sekali aku merenungi “kenapa aku sakit” “kenapa aku diberi penderitaan” , dsb.

Hingga semalaman aku masih terfikir itu, dan tak kuasa aku ungkapakan juga dengan pendamping hidupku. Suamiku hanya terdiam, sesaat dia menyampaikan satu dua pertanyaan yang ditujukan kepadaku “ingat kisah raja Fir’aun nggak dhek?”, jawabku sambil ogah-ogahan “apa hubungannya pertanyaanku dengan raja Fir’aun?” , “lho ya jelas ada, dia adalah raja diraja, raja yang tidak pernah diberikan sakit sama Allah, orang terkaya jaman sekarang pun tidak ada yang menyamai kekayaannya”, “trus kamu ingat Nabi Ayub nggak dhek?”

Nabi Ayub adalah nabi yang sangat kasihan, umur Beliau dihabiskan dengan penyakitnya yang menjijikkan, dan anak-istrinyapun meninggalkannya. Coba cari diantara Nabi Pendahulu kita yang hidupnya enak terus tanpa cobaan, siapa hayoo?

Biasanya kalau berdiskusi aku diam saja, mendengarkan ucapan yang terkadang menyindirku. Iya juga ya, benar juga ya, Nabi mana yang Allah memberi kesenangan seperti Raja Fir’aun. Jika dibandingkan dengan penderitaan Nabi Ayub aku ini tidak ada apa-apanya. Nabi Ayub sakit sedangkan ibadahnya tentu lebih baik dari manusia biasa seperti aku, Nabi Ayub juga ditinggal istri dan anak-anaknya, juga habis harta bendanya, lalu apakah Allah gak sayang? Allah menjamin Nabi Ayub dengan Syurga.

Lalu Raja Fir’aun ? Raja di Raja yang sangat kaya, kekuasaannya tiada tandingannya, kalau cuma mobil Mercy gak ada apa-apanya, Fir’aun juga tidak pernah sakit. Tetapi apakah Allah sayang? tentu tidak, karena Fir’aun sudah dijamin masuk neraka sama Allah.

Lalu apakah hakekat hidup kita ini ? kok malah kebalik ya, yang beriman selalu menderita dan yang kafir malah di “ujo” (dalam bahasa jawa artinya : apa pun kehendaknya terkabul). Trus sebenarnya apa rahasia di balik itu ?

Sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu harus aku jawab sendiri, karena aku dianggap pasti mencari jawabannya. “Apakah  manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS:29: 2-3). Itulah jawaban yang mungkin sesuai dengan pertanyaan yang selalu menyelimuti hatiku. Bagaimana menurut anda?

Balada Pensiunan

Beberapa bulan lagi, di kantorku tempat aku bekerja akan mengeluarkan SK pensiun bagi beberapa pegawai yang memang sudah saatnya untuk pensiun. Untuk pegawai kata-kata pensiun itu merupakan momok yang memang tidak bisa tidak akan dialami. Pensiun berarti berhenti bekerja dikarenakan batas umur bekerja yang sudah habis. Biasanya beberapa perusahaan menerapkan sistem pensiun yang berbeda-beda, ada yang menggunakan sistem PNS (Pegawai Negeri Sipil), dengan sistem 75% dari gaji, ada juga sistem pesangon, tetapi ada juga yang dua-duanya (pesangon dan pensiunan).

Kebetulan aku menghadapi beberapa orang yang sedang menghadapi pensiun, Orang tua, saudara dekat dan juga tetangga. Hari demi hari aku lalui dengan berbagai polemik yang terkadang membuatku sedih, gembira dan lucu sehingga memunculkan inspirasiku untuk membuat tulisan ini.

Ada yang siap menciptakan kerja lagi, ada yang memang sudah punya kerja sampingan selama bekerja, ada yang memang berniat bahwa pensiun adalah masa istirahat dan hanya mengabdikan diri pasa Allah, masyarakat dan keluarga. Hal yang paling penting sebenarnya adalah kesiapan mental, yang biasanya pagi-pagi dah siap ke kantor, berubah menjadi ritual yang membosankan, dirumah dan di rumah.

Ada beberapa yang stress di awal-awal pensiun dikarenakan mental yang tidak dipersiapkan sejak awal, padahal suatu perusahaan menerapkan batas maksimal usia bekerja sebenarnya bertujuan baik, dimana usia yang sudah ditetapkan diperkirakan seseorang sudah lemah baik fisik ataupun dalam berfikir. Meskipun ada beberapa yang tampak masih kuat tetapi kebanyakan usia itu adalah usia tepat untuk bersitirahat dalam segala hal.

Dari bermacam-macam pengamatanku, beberapa pegawai yang tetap eksis dimasa pensiunnya adalah tenaga kesehatan. Karena tenaga kesehatan mengandalkan jasa untuk menolong, maka dia akan terus dibutuhkan dalam masyarakat dan satu lagi tetap mendapatkan penghasilan. Nah, mungkin yang langsung keliatan menganggur adalah tenaga administrasi yang tidak punya sampingan pekerjaan. Untuk tenaga pengajar (guru/dosen) biasanya mereka akan punya kesibukan membaca, meskipun siapa saja bisa juga membaca.

Kemudian pertanyaannya yang paling stress siapa ? jawabannya tergantung pribadi masing-masing, semua mungkin bisa diatasi dengan kesiapan mental dan positif thinking. Ada sedikit cerita yang aku tulis hasil dari pengalaman sehari- hari. Adalah suami istri yang sudah sama-sama pensiunan pegawai negri, dikarenakan si istri adalah pensiunan tenaga kesehatan maka si istri masih bisa membuka praktek, nah sang Bapak adalah seorang tenaga pengajar yang pernah menjabat. Sang Bapak memutuskan untuk membuka Foto Copy untuk mengisi hari-harinya. Awalnya Sang Istri tidak setuju mengingat Bapak itu masih bisa tetap mengajar di Yayasan (tetapi tidak di gaji, hanya untuk kesibukan-red).

Baru seminggu Foto Copy buka Bapak itu dipusingkan dengan mesin baru yang tiba-tiba sudah rusak, lebih pusing lagi yang foto copy tidak banyak, hanya satu dua lembar yang kalau dihitung hasilnya tidak bisa untuk membayar listrik. Satu lembarnya Rp. 100,00 Sang Bapak itu sedih dan bicara dengan istrinya kalau hasilnya tidak “cucuk” dengan tenaga yang dikeluarkan.

Contoh di atas adalah, suatu bukti bahwa seseorang yang biasa sibuk, kemudian dia disuruh istirahat dan di gaji, ternyata belum mampu membuat seseorang itu tenang, karena ada organ tubuh yang tetap jalan yaitu : otak. Otak akan menggerakkan semuanya apalagi orang itu dalam keadaan sehat. Seorang professor yang  usianya sudah tua  akan tetap produktif, selagi otak dan fisiknya sehat. Begitu juga Sang Seniman, hanya hayat yang akan mematikan karya-karyanya.  Bagaimana pendapat anda untuk menghadapi masa pensiun ?

Panti Sosial atau Panti Jompo

Sore yang mendung tak menyurutkan langkahku untuk memenuhi dahaga keingintahuanku akan panti sosial yang satu ini namanya “Panti Sosial Tresna Werdha”. Panti Sosial ini terletak di Desa Kasogan, sebuah desa yang terkenal dengan kerajinannya, kira-kira 1 km dari pintu masuk Desa Wisata Kasongan. Panti sosial ini menampung begitu banyaknya orang-orang yang sudah lanjut usia atau biasa disebut “Panti Jompo”. Lama aku berada di luar pagar untuk mengamati sekeliling, karena untuk masuk harus ijin Pak Satpam, dan tentunya banyak pertanyaan yang pastinya tidak bisa aku jawab, misalnya : tujuan datang, surat ijin, surat menjenguk, wah gak kuat dech jawabnya.

Sore itu memang menjelang maghrib, nah saat waktunya masuk maghrib nampak beberapa orang yang sudah sepuh berbondong - bondong untuk melaksanakan jamaah sholat maghrib. Tampak sang muadzin yang sepuh banget mengumandangkan azan yang syahdu. Wah haru banget dengernya, suara itu tiada duanya apalagi keluar dari seseorang yang sangat tua seperti beliau. saat itu ada seorang Bapak yang menghampiriku, Beliau ini juga penghuni panti ini. Beliau menyapaku dengan santun, mbak disini ngapain? gugup juga aku menjawabnya, tapi karena kebetulan ada pekerjaan di depan panti ini, aku langsung menjawab “ini Pak, baru ada kerjaan disini”. Kemudian mulailah wawancara yang aku tunggu-tunggu, beliau bercerita bahwa di panti ini ada dua macam, yang dibiayai pemerintah (dengan kriteria yang pemerintah tentukan-red) dan yang atas kemauan sendiri (dengan biaya yang ditentukan juga-red). Bapak itu bilang bahwa Beliau memang yang berkeinginan di panti ini, karena putra-putrinya semua di Jakarta sehingga di Panti itu beliau merasa ada teman untuk berbagi. Kalau ikut putranya di Jakarta, Bapak itu merasa sendiri saat ditinggal kerja.

Read the rest of this entry »

Disuatu Sore

Tulisan ini hanyalah sebuah cerita ringan saja, suatu kebetulan tetapi sangat menyentuh nuraniku. Sore itu seperti biasa hari hujan, aku dan suamiku setelah pulang kantor berteduh sebentar sambil membeli gorengan. Sambil menunggu “tahu susur” kudengar ada percakapan dari seorang ibu yang sepertinya sedang ketemu kawan lamanya, juga sama-sama membeli gorengan.

“Itu yang ikut kamu anakmu nomer piro?” tanya ibu itu pada temannya, “keri dhewe (terakhir/bungsu-red)” ibu itu menimpali sambil memilih gorengan. “Wah wes prawan yo?” wes duwe pacar durung”?. Aku segera mengalihkan pandanganku untuk melihat anak itu ” hmmm cantik juga, putih kayak ibunya”.

Ibu itu menjawab sambil melihat putrinya yang sedang menunggu di motor “anakku, kalau bisa jangan pacaran dech, kemaren udah aku bilang kalau mau pacaran, mending tak nikahkan saja, aku gak apa-apa kok anakku nikah muda, asal jangan pacaran, aku takut pergaulan anak sekarang”. Temennya menjawab “iyo, aku yo setuju soale wes akeh contone, jaman saiki angel banget ngawasi anak wedhok”.

Sekarang aku baru kepikiran, ternyata bener juga pembicaraan itu. Memang sekarang ngawasi anak itu bukan pekerjaan mudah. Banyaknya tontonan TV yang menarik tapi meracuni, fasilitas internet yang bebas akses, pokoknya semua serba menghawatirkan. Lalu aku berfikir, lingkungan yang bebas virus dimana ya? kira-kira ada yang bisa diajak sharing ?

Sampai Menutup Mata

embun di pagi buta
menebarkan bau basah
detik demi detik ku hitung
inikah saat ku pergi

oh Tuhan ku cinta dia
berikanlah aku hidup
takkan ku sakiti dia
hukum aku bila terjadi

aku tak mudah
untuk mencintai
aku tak mudah
mengaku ku cinta
aku tak mudah
mengatakan
aku jatuh cinta
senandungku
hanya untuk cinta
tirakat ku
hanya untuk engkau
tiada dusta
sumpah ku cinta
sampai ku menutup mata…

Catatan : sentimentil banget ibu satu ini, hehehe

Harus Aku Tulis Dari Mana

kebosanan telah meracuni pikiranku pagi ini

Berkelebat pagi ini membayangi hatiku

Luka yang meninggalkan keindahan

Tidaklah pantas disebut luka, namun sebuah anugrah

Luka yang indah, memberikanku kebahagiaan pada akhirnya

Tersenyum karena kehilangan, aneh

Selalu menjalani pagi dengan jarak terpisah, sore pasti bersua lagi

Kuayun langkah kecilku meninggalkan biduk peraduan

Melangkah menapaki ritme pagi dengan cita dan asa

Huh, malam seakan sebentar menyatukanku

Hanya bisa memandangnya sekejap

Pagi dah beranjak datang,  pergi dan kembali, begitulah iramanya

Jelas sudah bahwa semua berakhir

tapi bersyukur karena telah pergi

Hmmm tinggal menunggu akhirnya nanti