Anugrah Yang Tak terduga

Sore itu kira-kira pukul 18.00 wib, aku baru saja tiba dari kantor. Memang biasanya aku pulang jam segitu setiap hari. jarak yang jauh yang harus aku tempuh, sekitar 2 jam dari sanden - Jalan Kaliurang. Aku ikhlaskan semua ini untuk buah hatiku dan juga baktiku pada orang tuaku yang sudah menginjak usia pensiun. Hujan begitu lebatnya, udara sangat dingin aku rasakan. Saat aku dan suamiku memasuki gerbang rumah aku melihat seseorang duduk diberanda rumah kami, aku masih berfikir bahwa orang itu adalah pasien yang sedang menunggu giliran masuk.

Aku mengamati saat lampu kendaraan kami tepat mengenai wajahnya, oh ternyata seorang simbah, mungkin masih ada pasien di dalam yang masih diperiksa. Aku belum berani keluar mobil sebelum aku bisa yakin bahwa "simbah" itu adalah pasien. Maklum karena di rumah kami sering sekali ada orang yang kesasar atau orang stress yang "nunut ngeyup" ataupun berteduh di beranda rumah kami. Ibukku adalah seorang bidan desa yang sudah sepuh. Banyak anak-anak yang pernah ditolong untuk bisa lahir yang kira-kira usianya sebesar aku dan sudah banyak yang punya anak, jadi ibukku biasa dipanggil "uti" di desa kami. Aku paham betul dengan profesi ibukku yang tidak kenal lelah menolong orang sehingga kalaupun banyak orang meminta tolong dengan berbagai masalah aku tidak lagi kaget.

Aku mengamati pasien yang duduk dikursi itu beringsut turun dari kursi dan duduk "ndeprok" (duduk di lantai -red). Aku mulai curiga ada apa dengan "simbah" ini, aku akhirnya bicara dengan suamiku bahwa simbah itu belum tentu waras, tetapi karena hujan yang sangat lebat itu membuat orang yang di dalam rumah tidak mendengar kedatangan kami, akhirnya aku punya ide untuk menelphon anakku "Cica, tolong bukakan pintu garasi sepertinya ada orang gila di depan". Anakku langsung berlari dan membukakan pintu, akhirnya kami masuk rumah dari pintu garasi.

Aku bertanya pada ibukku yang waktu itu baru membuat teh hangat untuk seseorang, dan sebelum aku banyak berkata-kata ibukku berkata "itu mungkin wasilah untuk kita, itu simbah yang didepan adalah simbah yang tersesat sekitar 5 km, dia mau ngaruhke winih ke tetangga (mau bertanya bibit padi -red) tetapi karena hari tiba-tiba hujan simbah itu bingung dan nyasar ke sini"

Astaghfirullah, hatiku tercekat aku langsung bergegas menengok simbah itu dan aku menyuruhnya duduk di atas kursi. Simbah itu wajahnya menyiratkan kebingungan dan ketakutan, sepertinya dia juga kedinginan. Aku kira usianya lebih dari 75 tahun, jalannya bongkok, rambutnya acak-acakan dan maaf baunya menyengat sepertinya simbah ini ngompol dan tidak pernah mandi. Ibukku membuatkan teh hangat dan simbah itu langsung menyambutnya dengan penuh cita "maturnuwun nggih bu" dia berkata sambil meneguk tak sabar segelas teh hangat manis yang pastinya enak (ibukku kan ahlinya teh-red).

Aku segera berlari ke belakang rumah karena bau yang menyengat membuat perutku mual, ibukku segera bersiap mau pergi dan berkata "dhek, kamu jagain simbahnya aku mau kasih tau pak dhukuh katanya simbah itu tetangganya pak dukuh didesa "Puluhan" dan dia menyebutkan nama anaknya, artinya ingatan simbah itu masih lumayan" hujan yang deras membuat aku khawatir sama ibukku "buk, aku antar saja". ternyata ibukku yang sudah biasa malang melintang dengan motor butut kesayangannya bersikeras sendiri menelusur desa dengan "jas hujan" dan perlengkapan lainnya.

Ibukku maemang bidan desa senior waktu jaman masih susah dulu, jaman dimana banyak perampok dan begal di daerahku. Ibukku biasa pergi tengah malam sekalipun sendiri dengan motor butut itu, tanpa rasa takut, dengan perampok pun ibukku tidak takut, ibukku selalu berkata "perampok itu anaknya aku yang menolong melahirkan jadi Insya Allah dia akan ingat aku, dan hanya Allah tempat yang paling baik untuk kita mintai pertolongan".

ngeng.....Assalamualaikum ibukku pergi cepat dengan motor bututnya  "wa'alaikumussalam, aku nguntapke ibukku dengan do'aku sebagai seorang anak". Kembali aku menghampiri simbah yang menikmati makanan yang diberikan oleh suamiku. Anakku mangamati simbah itu dari jendela "mama, simbah itu kedinginan", ternyata simbah itu ngantuk dan kelelahan, dia sepertinya tertidur.

Kira-kira 1 jam kemudian ibukku datang dengan basah kuyup "ternyata jas hujannya tidak mampu menampung air masuk ke tubuhnya", "Aku wes ketemu Pak Dhukuh" (saya sudah ketemu Pak Dhukuh-red). kata Pak Dukuh itu memang warganya, anaknya cuma satu tapi anaknya galak sekali dan stress, nah simbah itu sering dimarahin, jadinya simbah itu juga bingun dan stress. Nanti Pak Dhukuh yang akan menjemput.

Tibalah azan Isya' berkumandang, ibukku berkata "sekarang sholatnya dibagi, harus ada yang jagain simbah itu jangan sampai dia pergi, karena simbah itu sering hilang". Kebetulan aku yang kebagian menunggu dan sholat terakhir, aku selalu memantau dan memastikan bahwa simbah itu tidak pergi. Aku dikagetkan ada seseorang yang mengetuk pintu "kulo nuwun bu" aku bergegas membukakan pintu, o ternyata anak dari simbah itu.

Tak kuduga dan tidak pernah aku sangka anak simbah itu basah kuyup karena tidak pake jas hujan, dan dia hanya membawa sepeda. Melihat keadaannya aku ternganga, ada rasa takut dalam hatiku....jangan-jangan anak ini juga gila, kenapa bukan Pak Dhukuh yang menjemputnya? dan gimana kalau hanya dengan sepeda butut ini? apakah simbah ini kuat diboncengkan? yang lebih membuat aku kaget lagi, ternyata simbah ini bereaksi, dos makanan dan gelas teh hangat tadi dibawa seolah-olah dia cari tempat yang aman untuk menyembunyikan dan simbah itu kelihatan sangat takut melihat anaknya.

Anak simbah itu berumur sekitar 40 tahun, dia lebih tepatnya disebut seorang Bapak. Aku persilakan duduk Bapak itu, dan dia kelihatan menggigil, aku takut sekali, malam dingin hujan lebat yang mencekam. Aku tak bisa mengatasi keadaan ini sementara suamiku baru sholat berjamaah. Alhamdulillah, Bapakku pulang dari mengajar ngaji dan dia kaget melihat keadaan 2 (dua) orang didepannya.

Akhirnya aku bercerita, dan Bapakku langsung bilang "Pak, simbah ini saya antar saja, karena gak mungkin diboncengkan dengan sepeda" Bapak itu dengan nada gemetar, parau dan sepertinya menahan sakit berkata "mboten Pak, saya sudah biasa begini, karena simbok ini memang sering hilang. Yah memang harus begini ini jalan saya Pak". Saya tadi baru membantu tetangga yang keluarganya ada yang meninggal, tapi saya lupa menutup pintu eh simbok kok malah ilang, saya juga baru sakit pak, boleh nggak kalau saya periksa sekalian di sini. "oh monggo, sebentar ya menunggu ibune selesai sholat".

Belum juga masalah simbah ini selesai ada seorang laki-laki tergopoh-gopoh mencari darah katanya untuk istrinya (mungkin maksudnya donor darah-red). Sore itu begitu mencekamnya......................ibukku selesai sholat langung menangani laki-laki yang manceri donor darah itu untuk diberi arahan agar ke rumah sakit dan alhamdulillah laki-laki itu mau mengerti meskipun sangat susah sekali ibukku memberikan pengertian, dia berprinsip bidan itu tau segalanya "pokokke bu bidan". Masya Allah berat sekali tugas ibukku di usia senja ini.

Simbah itu tetap duduk di lantai seperti instruksi anaknya, aku melihat betapa kasian simbah ini, dan keadaan anaknyapun tidak lebih baik. Bapak itu akhirnya diperiksa sama ibukku dan ditanyain perihal simbah itu dan juga sakitnya. ternyata simbah itu juga stress, dan istri dari bapak ini galak sekali.

Sedangkan Bapak ini maaf juga cacat tubuhnya. keadaan keluarganya memang sangat kasihan, akhirnya setelah selesai diperiksa Bapak itu mengeluarkan uang sangat kumal "pinten bu", "oh nggak pak, ini obatnya buat bapak saja". Ternyata Bapak itu ada niat baik untuk membayar, Subhanallah....sungguh miris hatiku. Akhirnya Bapak dan simbah itu pulang dengan sepeda, karena tidak mau diantar. Dan dos makanan juga gelas teh hangat itu juga di bawanya serta, hatiku sedih bukan main melihat keadaan yang diluar kuasaku ini. Sebenarnya aku menahan tangis untuk peristiwa sore ini.

Sambil makan sore, aku diam, suamiku bertanya "nggak makan dhek?" aku menjawab "nggak" sepertinya suamiku tau apa yang ada dihatiku, "harusnya tadi kamu yang jamaah aja, biar aku yang menunggu jadi gak seperti ini, kamu diam dan gak mau makan". Maaf bukan itu maksudku perutku masih sangat mual mengingat peristiwa tadi. Sampai pagi harinya aku masih mual jika teringat peristiwa itu.

Ternyata Bapak Ibukku juga tidak henti-hentinya berdiskusi tentang simbah dan anak yang membuatku sebagai anugrah yang tak terduga. Aku menangis dan bertanya sama suamiku "kenapa Allah memberi nasib simbah itu seperti itu? juga anaknya?" kurang bersyukur apa lagi kita sama pemberian Allah, "Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu ingkari?" apa kuat aku jika mengalami nasib seperti itu?" Ya Allah ya Rabbi ampuni hambaMu ini yang tidak pernah bersyukur atas nikamatMu, yang selalu merasa kurang, yang sombong, yang selalu iri hati terhadap nikmat orang lain, yang tidak pernah merasa cukup, aku malu ya Allah dengan ini semua, ampuni kami ya Allah.

Simbah dan anaknya itu membawa aku ke dalam perenunganku, aku menjadi tanpa daya, aku menjadi bukan siap-siapa, bagaimana jika keadaanku diakhirat difakirkan sama Allah karena amalku masih sedikit? ya Allah jika di dunia seperti ini masih bisa ada harapan di akhirat nanti, lalu jika aku di akhirat seperti ini siapa yang akan menolongku? ........ mungkin hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

One Response to Anugrah Yang Tak terduga »»


Comments

    comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  1. Comment by Yuli Andriansyah | 2008/12/11 at 11:03:54

    Bagus sekali dan sangat menyentuh...
    Manusia memang lebih senang melihat ke atas, padahal di bawahnya masih banyak yang kekurangan.
    Semoga posting ini kembali menyadarkan kita semua, bahwa kita memiliki banyak kewajiban terhadap sesama yang harus ditunaikan.
    Juga agar kiranya kita menyadari bahwa di dalam harta kita ada hak saudara-saudara kita yang memerlukan.
    Makasih Mbak Hana...


comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

Trackbacks & Pingbacks »»

  1. Comment by Yuli Andriansyah | 2008/12/11 at 11:03:54

    Bagus sekali dan sangat menyentuh...
    Manusia memang lebih senang melihat ke atas, padahal di bawahnya masih banyak yang kekurangan.
    Semoga posting ini kembali menyadarkan kita semua, bahwa kita memiliki banyak kewajiban terhadap sesama yang harus ditunaikan.
    Juga agar kiranya kita menyadari bahwa di dalam harta kita ada hak saudara-saudara kita yang memerlukan.
    Makasih Mbak Hana...

Leave a Reply »»