Panti Sosial atau Panti Jompo

Sore yang mendung tak menyurutkan langkahku untuk memenuhi dahaga keingintahuanku akan panti sosial yang satu ini namanya "Panti Sosial Tresna Werdha". Panti Sosial ini terletak di Desa Kasogan, sebuah desa yang terkenal dengan kerajinannya, kira-kira 1 km dari pintu masuk Desa Wisata Kasongan. Panti sosial ini menampung begitu banyaknya orang-orang yang sudah lanjut usia atau biasa disebut "Panti Jompo". Lama aku berada di luar pagar untuk mengamati sekeliling, karena untuk masuk harus ijin Pak Satpam, dan tentunya banyak pertanyaan yang pastinya tidak bisa aku jawab, misalnya : tujuan datang, surat ijin, surat menjenguk, wah gak kuat dech jawabnya.

Sore itu memang menjelang maghrib, nah saat waktunya masuk maghrib nampak beberapa orang yang sudah sepuh berbondong - bondong untuk melaksanakan jamaah sholat maghrib. Tampak sang muadzin yang sepuh banget mengumandangkan azan yang syahdu. Wah haru banget dengernya, suara itu tiada duanya apalagi keluar dari seseorang yang sangat tua seperti beliau. saat itu ada seorang Bapak yang menghampiriku, Beliau ini juga penghuni panti ini. Beliau menyapaku dengan santun, mbak disini ngapain? gugup juga aku menjawabnya, tapi karena kebetulan ada pekerjaan di depan panti ini, aku langsung menjawab "ini Pak, baru ada kerjaan disini". Kemudian mulailah wawancara yang aku tunggu-tunggu, beliau bercerita bahwa di panti ini ada dua macam, yang dibiayai pemerintah (dengan kriteria yang pemerintah tentukan-red) dan yang atas kemauan sendiri (dengan biaya yang ditentukan juga-red). Bapak itu bilang bahwa Beliau memang yang berkeinginan di panti ini, karena putra-putrinya semua di Jakarta sehingga di Panti itu beliau merasa ada teman untuk berbagi. Kalau ikut putranya di Jakarta, Bapak itu merasa sendiri saat ditinggal kerja.

Bapak itu juga bercerita bahwa dia suka jalan-jalan ke pusat kerajinan kasongan, kalau ada barang bagus dia beli untuk putra-putrinya yang di Jakarta. Aku melihat betapa bugar dan sehatnya Bapak ini. Kesan yang ada, panti ini bersih, terawat, nyaman, sejuk dan lokasinya sangat luas, wah luas sekali.

Nampak indah suasananya, sungguh sejuk nyaman untuk tempat orang-orang yang sudah lanjut usia seperti itu. Bapak itu mohon diri, karena muadzin sudah mengumandangkan iqomah. Kuamati cara sholat mereka, hmm sudah kembali menjadi anak kecil lagi, saat sholat ada yang tengok kanan-kiri, bercakap-cakap lirih, memakai mukena yang gak rapih,  SubhanAllah sungguh semua kembali ke titik nadir. Renunganku kembali mengembara, sungguh diusia senja ini, mereka juga membutuhken teman, disisi lain ada yang memandang tidak manusiawi karena kenapa bukan anak cucunya yang mengasuh mereka, namun saat aku melihat kenyataan mereka disana punya komunitas yang sama, dengan segala fasilitas yang tersedia, suasana yang nyaman, perawat yang selalu siap mendampingi dan melayani semua keperluan mereka.

Aku bertanya dengan hati nuraniku, apakah kelak aku akan menitipkan kedua orang tuaku saat usia mereka senja seperti mereka. Ternyata hatiku berkata lain, mungkin aku punya cara tersendiri untuk merawat kedua orang tuaku. semua orang punya sudut pandang masing-masing, tidak ada yang bisa menyalahkan untuk menentukan pilihan bagaimana cara kita berbakti pada orang tua kita jika usia mereka sudah senja.

Terlepas dari itu semua, saat aku mengarahkan pandanganku ke sisi jalan aku melihat sebuah makam yang tak kalah luas, tepat di depan panti jompo tersebut. oh pemandangan yang sangat fantastis, mungkin juga sebuah kebetulan. Tetapi dilihat dari sisi positifnya, makam adalah tempat dimana manusia akan kembali dan menyatu dengan tanah, tempat dimana kita kembali keasalnya. Menjelang usia senja ada baiknya memang diingatkan akan kematian sebagai peringatan untuk beribadah kepada Allah.

Leave a Reply »»