Balada Pensiunan

Beberapa bulan lagi, di kantorku tempat aku bekerja akan mengeluarkan SK pensiun bagi beberapa pegawai yang memang sudah saatnya untuk pensiun. Untuk pegawai kata-kata pensiun itu merupakan momok yang memang tidak bisa tidak akan dialami. Pensiun berarti berhenti bekerja dikarenakan batas umur bekerja yang sudah habis. Biasanya beberapa perusahaan menerapkan sistem pensiun yang berbeda-beda, ada yang menggunakan sistem PNS (Pegawai Negeri Sipil), dengan sistem 75% dari gaji, ada juga sistem pesangon, tetapi ada juga yang dua-duanya (pesangon dan pensiunan).

Kebetulan aku menghadapi beberapa orang yang sedang menghadapi pensiun, Orang tua, saudara dekat dan juga tetangga. Hari demi hari aku lalui dengan berbagai polemik yang terkadang membuatku sedih, gembira dan lucu sehingga memunculkan inspirasiku untuk membuat tulisan ini.

Ada yang siap menciptakan kerja lagi, ada yang memang sudah punya kerja sampingan selama bekerja, ada yang memang berniat bahwa pensiun adalah masa istirahat dan hanya mengabdikan diri pasa Allah, masyarakat dan keluarga. Hal yang paling penting sebenarnya adalah kesiapan mental, yang biasanya pagi-pagi dah siap ke kantor, berubah menjadi ritual yang membosankan, dirumah dan di rumah.

Ada beberapa yang stress di awal-awal pensiun dikarenakan mental yang tidak dipersiapkan sejak awal, padahal suatu perusahaan menerapkan batas maksimal usia bekerja sebenarnya bertujuan baik, dimana usia yang sudah ditetapkan diperkirakan seseorang sudah lemah baik fisik ataupun dalam berfikir. Meskipun ada beberapa yang tampak masih kuat tetapi kebanyakan usia itu adalah usia tepat untuk bersitirahat dalam segala hal.

Dari bermacam-macam pengamatanku, beberapa pegawai yang tetap eksis dimasa pensiunnya adalah tenaga kesehatan. Karena tenaga kesehatan mengandalkan jasa untuk menolong, maka dia akan terus dibutuhkan dalam masyarakat dan satu lagi tetap mendapatkan penghasilan. Nah, mungkin yang langsung keliatan menganggur adalah tenaga administrasi yang tidak punya sampingan pekerjaan. Untuk tenaga pengajar (guru/dosen) biasanya mereka akan punya kesibukan membaca, meskipun siapa saja bisa juga membaca.

Kemudian pertanyaannya yang paling stress siapa ? jawabannya tergantung pribadi masing-masing, semua mungkin bisa diatasi dengan kesiapan mental dan positif thinking. Ada sedikit cerita yang aku tulis hasil dari pengalaman sehari- hari. Adalah suami istri yang sudah sama-sama pensiunan pegawai negri, dikarenakan si istri adalah pensiunan tenaga kesehatan maka si istri masih bisa membuka praktek, nah sang Bapak adalah seorang tenaga pengajar yang pernah menjabat. Sang Bapak memutuskan untuk membuka Foto Copy untuk mengisi hari-harinya. Awalnya Sang Istri tidak setuju mengingat Bapak itu masih bisa tetap mengajar di Yayasan (tetapi tidak di gaji, hanya untuk kesibukan-red).

Baru seminggu Foto Copy buka Bapak itu dipusingkan dengan mesin baru yang tiba-tiba sudah rusak, lebih pusing lagi yang foto copy tidak banyak, hanya satu dua lembar yang kalau dihitung hasilnya tidak bisa untuk membayar listrik. Satu lembarnya Rp. 100,00 Sang Bapak itu sedih dan bicara dengan istrinya kalau hasilnya tidak "cucuk" dengan tenaga yang dikeluarkan.

Contoh di atas adalah, suatu bukti bahwa seseorang yang biasa sibuk, kemudian dia disuruh istirahat dan di gaji, ternyata belum mampu membuat seseorang itu tenang, karena ada organ tubuh yang tetap jalan yaitu : otak. Otak akan menggerakkan semuanya apalagi orang itu dalam keadaan sehat. Seorang professor yang  usianya sudah tua  akan tetap produktif, selagi otak dan fisiknya sehat. Begitu juga Sang Seniman, hanya hayat yang akan mematikan karya-karyanya.  Bagaimana pendapat anda untuk menghadapi masa pensiun ?

2 Responses to Balada Pensiunan »»


Comments

    comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  1. Comment by bambang | 2009/05/18 at 10:56:52

    Menarik tulisannya, setiap pegawai tentu akan pensiun. Memang terkadang tidak semua orang menyadari sunatulloh bahwa siklus kehidupan terus berjalan, termasuk akhirnya pensiun dan mati. Yang penting sampai dimanapun estafet perjalanan kita harus dinikmati dan disyukuri. Bagi seorang muslim ladang pengabdian dan pahala masih terbuka luas sampai kapanpun. Orang pensiun harus diyakinkan masih dapat banyak berkarya dan bermanfaat bagi orang lain, yang penting semangat dan khusnudzon.

  2. comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  3. Comment by Imron Kuswandi M. | 2011/03/05 at 06:49:23

    Sebuah renungan:

    -----

    MEMANFAATKAN SISA UMUR YANG TINGGAL SEDIKIT

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Saudaraku, aku mau bertanya: “Apa yang sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang sudah memasuki usia pensiun seperti aku ini? Apa harus berdzikir saja?”. Demikian pertanyaan Pak Nafil kepada Pak Fulan, sahabatnya.

    Mendengar pertanyaan dari Pak Nafil tersebut, Pak Fulan berupaya untuk menanggapinya: “Teruslah berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, wahai saudaraku! Dengan mengisi sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan segala kebaikan. Bisa dengan berdzikir, terus belajar tentang Islam + segala kebaikan lainnya. Jangan sampai engkau luangkan sedikitpun waktu yang tersisa ini untuk bersantai, apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya. Dan jangan sampai datang ajalmu sedang engkau belum berserah diri kepada-Nya, padahal tak seorang pun tahu kapan ajalnya 'kan tiba”.

    Tak lupa, Pak Fulan juga mengingatkan: ”Saudaraku..., Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.

    Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui". (QS. Al Mu’minuun. 112-114).

    -----

    Saudaraku…,
    Perhatikan nasehat Pak Fulan yang terakhir: ”Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.

    Yah...,
    Berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita, ternyata tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja. Ini artinya bahwa nasehat Pak Fulan tersebut sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada Pak Nafil yang sudah memasuki usia pensiun. Tetapi juga ditujukan kepada kita semua, berapapun usia kita saat ini.

    Menyadari akan hal ini, maka sekali-kali jangan sia-siakan sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti: tidak tidur semalaman hanya karena larut dalam bermain “game” di komputer kesayangan, ‘ngobrol tak tentu arah hingga berjam-jam, dll. Apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya.

    Ingat...!!!
    Bahwa berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Sementara tidak lama lagi, kita semua akan menempuh suatu perjalanan nan amat panjang, yang harus kita lalui sendirian.

    “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS. Maryam. 95).

    Saudaraku…,
    Kita semua, sudah seharusnya menyadari hal ini...!!!

    Demikian...,
    Semoga bermanfaat…!

    NB.
    Pak Fulan dan Pak Nafil pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

    http://imronkuswandi.blogspot.com/


comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

Trackbacks & Pingbacks »»

  1. Comment by bambang | 2009/05/18 at 10:56:52

    Menarik tulisannya, setiap pegawai tentu akan pensiun. Memang terkadang tidak semua orang menyadari sunatulloh bahwa siklus kehidupan terus berjalan, termasuk akhirnya pensiun dan mati. Yang penting sampai dimanapun estafet perjalanan kita harus dinikmati dan disyukuri. Bagi seorang muslim ladang pengabdian dan pahala masih terbuka luas sampai kapanpun. Orang pensiun harus diyakinkan masih dapat banyak berkarya dan bermanfaat bagi orang lain, yang penting semangat dan khusnudzon.

  2. comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

    Trackbacks & Pingbacks »»

    1. Comment by Imron Kuswandi M. | 2011/03/05 at 06:49:23

      Sebuah renungan:

      -----

      MEMANFAATKAN SISA UMUR YANG TINGGAL SEDIKIT

      Assalamu’alaikum wr. wb.

      Saudaraku, aku mau bertanya: “Apa yang sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang sudah memasuki usia pensiun seperti aku ini? Apa harus berdzikir saja?”. Demikian pertanyaan Pak Nafil kepada Pak Fulan, sahabatnya.

      Mendengar pertanyaan dari Pak Nafil tersebut, Pak Fulan berupaya untuk menanggapinya: “Teruslah berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, wahai saudaraku! Dengan mengisi sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan segala kebaikan. Bisa dengan berdzikir, terus belajar tentang Islam + segala kebaikan lainnya. Jangan sampai engkau luangkan sedikitpun waktu yang tersisa ini untuk bersantai, apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya. Dan jangan sampai datang ajalmu sedang engkau belum berserah diri kepada-Nya, padahal tak seorang pun tahu kapan ajalnya 'kan tiba”.

      Tak lupa, Pak Fulan juga mengingatkan: ”Saudaraku..., Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.

      Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui". (QS. Al Mu’minuun. 112-114).

      -----

      Saudaraku…,
      Perhatikan nasehat Pak Fulan yang terakhir: ”Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.

      Yah...,
      Berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita, ternyata tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja. Ini artinya bahwa nasehat Pak Fulan tersebut sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada Pak Nafil yang sudah memasuki usia pensiun. Tetapi juga ditujukan kepada kita semua, berapapun usia kita saat ini.

      Menyadari akan hal ini, maka sekali-kali jangan sia-siakan sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti: tidak tidur semalaman hanya karena larut dalam bermain “game” di komputer kesayangan, ‘ngobrol tak tentu arah hingga berjam-jam, dll. Apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya.

      Ingat...!!!
      Bahwa berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Sementara tidak lama lagi, kita semua akan menempuh suatu perjalanan nan amat panjang, yang harus kita lalui sendirian.

      “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS. Maryam. 95).

      Saudaraku…,
      Kita semua, sudah seharusnya menyadari hal ini...!!!

      Demikian...,
      Semoga bermanfaat…!

      NB.
      Pak Fulan dan Pak Nafil pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

      http://imronkuswandi.blogspot.com/

    Leave a Reply »»