Penderita Diabetes Militus

Pagi ini aku datang ke poli Gereatri, saat aku dirujuk oleh suster masuk ke poli itu aku sempet bertanya apa artinya Gereatri ? suster itu menjawab "tempat untuk orang-orang yang sudah lanjut usia", Masya Allah pikirku.."lalu sus, kenapa aku dirujuk kesana?" suster itu menjawab " ya karena penyakitnya mbak ini masuk kelompok ini"....hmm aku mengikuti suster itu sambil berguman "ya Allah.....hmm".

Kulihat dideretan bangku tunggu, banyak sekali pasien lansia menunggu giliran panggilan periksa...pagi ini sengaja aku datang awal agar kerjaku tidak terganggu. Seorang Bapak yang didorong dengan kursi roda oleh laki-laki separuh baya tersenyum padaku sambil permisi duduk disebelahku. Wajahnya berseri-seri dan tersenyum padaku...wah giginya utuh putih bersih (maaf aku tau itu bukan gigi palsu-red). Sesaat kemudian, aku bertanya "sakit apa pak?" dia dengan suara yang santun menjawab "diabetes militus". Bapak ini berusia 83 tahun bulan september tahun ini katanya...tetapi guratan kebahagiaan tampak sekali di wajahnya, bahwa beliau tidak merasakan sakit dalam dirinya. Lama kami berbincang karena bapak itu semangat sekali dalam bercerita. Usia yang sudah sepuh membuatku sadar bahwa serasa ada sesuatu yang membuat dia ingin selalu ingin bercerita panjang lebar kepada siapa saja yang dijumpainya, mungkin karena rindu akan suasana waktu dulu masih aktif menjadi guru, atau beliau tidak lagi banyak ketemu dengan teman karibnya, atau putra-putrinya yang sangat jauh, akhirnya aku dengan senang hati menemaninya untuk sekedar bercerita.

Wajahnya putih bersih, saat aku menjabat tangannya aku berkata dalam hatikuĀ  "sepertinya Bapak ini sangat disiplin sekali dalam hidupnya, sehingga meskipun beliau menderita diabetes beliau tidak nampakĀ  menderita sedikitpun. Bapak itu berkata "penyakit diabetes militus ini adalah tamu yang saya tunggu-tunggu mbak, karena 8 saudara saya semua terkena diabetes dan sudah banyak yang meninggal, jadi diabetes bagi saya kan keturunan sehingga pasti datangnya dan ternyata datangnya pada saat usia saya 45 tahun". Nah, kalau kedatangan tamu itu yang harus dilakukan adalah menyambutnya dengan suka cita, menjamunya dengan jamuan yang dia suka, melayani apa kemauan dia. Nah ibaratnya tamu, diabetes ini harus saya layani sebagaimana tamu, misalnya diabetes itu tidak boleh makan/minum manis ya saya layani seperti itu, kalau waktunya minum obat ya saya minumi obat, dan begitu seterusnya. Sehingga tamu tadi senang dengan saya dan bersahabat dengan saya. Kalau harusnya diet kok saya tidak layani, hasilnya diabetes tadi akan menjadi musuh saya, begitu seterusnya.

Prinsip bahagia bagi penderita diabetes adalah kuatkan iman, artinya yakin bahwa Allah itu tidak pernah menyiksa hambaNya. Dengan keyakinan itu saya tidak pernah merasa bahwa diabetes itu menyiksa saya, tetapi sebaliknya diabetes adalah anugrah yang diberikan Allah pada saya, yang mau tidak mau harus saya hadapi. Yang kedua bersyukur, dari rasa bersyukur itu akhirnya saya tau bahwa dengan penyakit ini saya merasa menjadi seseorang yang disayang sama Allah, dimana saya harus bersabar dalam menghadapi.

Tak lama kemudian disela-sela perbincangan kami, seorang ibu yang sudah "sepuh" juga berkata "Bapak jangan kebanyakan cerita, nanti hipo lho" mungkin yang dimasukkan hipo adalah hipoglikemi. Dan Bapak itu langsung menurut, "kalau istri saya sudah bilang begitu saya harus menurut mbak, karena kalau tidak kalau ada apa-apa istri juga yang susah.

Bapak itu ternyata pernah menjadi narasumber dalam dialog interaktif dengan penderita diabetes militus. Jadi menjadi contoh bahwa penderita diabetes ada juga yang selalu bahagia dengan kiat-kiat yang disampaikan tadi.

Dalam perenungan saya berarti Bapak tadi menderita penyakit diabetes itu sudah lama sekali yaitu sejak beliau usia 45 - 83 nanti bulan september, dan beliau selalu bilang kepada teman-teman sesama penderita yang lain bahwa yang selalu dia hindari adalah komplikasi. Kemudian yang harus dilakukan adalah disiplin yang artinya di : dilarang, si = sikap, plin : plintat-plintut. Begitu seterusnya beliau bercerita dengan semangatnya sampai ada suster yang memanggil giliran beliau untuk masuk ke ruang periksa.

One Response to Penderita Diabetes Militus »»


Comments

    comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  1. Comment by Beyly | 2010/08/18 at 21:16:11

    Terimakasih...Mbak sudah memberi semangat dalam hidup saya...


comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

Trackbacks & Pingbacks »»

  1. Comment by Beyly | 2010/08/18 at 21:16:11

    Terimakasih...Mbak sudah memberi semangat dalam hidup saya...

Leave a Reply »»