Penjual Gorengan itu

Ini adalah sepenggal cerita kekagumanku kepada seorang ibu penjual gorengan yang aku kenal sejak aku duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMA). Ibu yang lugu, sederhana dan murah senyum. "Beli gorengan empat saja boleh bu?" tanyaku sambil mengeluarkan uang Rp. 2000,00. "Eh mbak Hana, boleh mbak silakan ambil" kata ibu itu dengan "sumeh" (murah senyum-red) , maklum waktu itu aku masih menjadi anak kost. Hampir setiap hari aku sambangi tempat jualannya hanya sekedar untuk mencicipi "tahu susur" nya yang enak sekali, gurih dan renyah.

Suatu hari tempat yang biasa untuk mangkal jualan itu sepi sekali "wah, hari ini sepertinya ibu ini tidak jualan", "apakah ibu ini sakit?", "atau mungkin hari ini saja ibu itu tidak jualan, ya sudah aku tunggu saja besok". Namun kecurigaanku semakin bertambah, hari demi hari berlalu ibu itu tak kunjung berjualan. Kerinduanku akan "gorengan" nya yang renyah membuatku memberanikan diri mencari rumah ibu itu, dan bertemulah aku dengan anaknya yang sedang menyapu halaman.

Kuberanikan diri bertanya "mbak, ibu kok tidak jualan gorengan lagi?, apakah ibu sakit ata baru pergi?", anaknya menjawab "oh ibu sudah capek mbak jualan gorengan, lagin beberapa hari ini hujan turun terus menerus, sehingga banyak gorengan yang tidak laku, dan akirnya ibu malas jualan lagi". "duh, mbak saya seneng banget sama tahu susurnya, kapan ya mbak ibu jualan lagi, titip pesen saja buat ibu agar segera jualan lagi ya mbak". Begitu percakapan kami yang diakhiri dengan permohonan agar ibu itu bisa segera jualan gorengan dengan pesan agak memaksa "segera ya mbak".

Kudapati beberapa minggu setelahnya ibu itu tetap berjualan, hingga detik ini tulisan ini aku buat. Meskipun aku tidak bisa setiap hari membeli gorengan, karena keadaan yang mengharuskan aku harus pindah tempat tinggal, seingga lama aku tidak bertemu ibu "penjual gorengan"  itu, mungkin kurang lebih 8 tahunan.

SubhanAllah, sungguh Allah Maha Besar, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuasaan Allah, tidak ada yang bisa menjamin rejeki kecuali Allah yang Maha segalanya. Betapa terkejutnya aku ketika aku bertemu ibu "penjual gorengan" yang saat itu sama-sama mengikuti manasik haji disebuah bimbingan haji di kota jogja tercinta ini. Ibu "penjual gorengan" itu menyapaku "Mbak Hana, pripun kabare (bagaimana kabarnya-red)?". Kaget bercampur haru ketika Ibu "penjual gorengan" itu beserta suaminya akan berangkat haji tahun 2009.

Betapa gigih ibu itu berjualan gorengan setiap sore dan akhirnya bisa menunaikan Ibadah Haji bersama dengan suaminya tercinta. AllahuAkbar, aku teringat pengajian yang disampaikan di Masjid dekat Maktabku waktu itu, bahwa yang bisa mengukur kita mampu menunaikan ibadah haji itu bukan siapa-siapa, tetapi diri kita dan ALlah. Ukurannya bukan sudah punya mobil, bukan karena punya rumah, atau anak-anak sudah besar, menurut imam masjid itu kata "mampu" sebagai syarat diwajibkannya Haji bagi seseorang adalah mampu dalam mental dan materi. Jika seseorang itu sehat dan punya harta senilai ONH = Ongkos Naik Haji saat itu, itu artinya orang itu sudah wajib haji, apabila dia meninggal dan belum sempat menunaikan ibadah haji, maka dia telah berhutang Haji, yang artinya hutang itu harus dibayarkan oleh ahli warisnya yang paling dekat, kalau bapak maka yang bisa membayarkan adalah anaknya, begitu seterusnya.

Ibu penjual gorengan dengan rumah yang sederhana, dan hidup yang juga begitu adanya telah menginspirasiku untuk bersemangat untuk lebih dalam menggapai Ridhlo Allah. Berharap juga agar aku bisa lebih baik, lebih baik, lebih baik lagi. Terilhami oleh kata-kata dokter Retno Danarti Maharika, diawali dengan baik, tengahnya baik dan diakhiri dengan baik, begitu kira-kira meskipun masih banyak sekali kekurangan disana-sini dan ketidaksempurnanya aku sebagai manusia. Tulisan ini bukan merendahkan seorang ibu penjual gorengan, akan tetapi justru sebaliknya betapa aku terharu dan kagum dengan ibu itu.

Sampai sekarang aku masih sering mampir untuk sekedar silaturrahim sambil membeli "tahu susurnya" meskipun hanya 4 buah. Semoga kita selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari ini.

2 Responses to Penjual Gorengan itu »»


Comments

    comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  1. Comment by lathifatul | 2010/01/28 at 17:11:09

    Subkhanalloh... tulisan ini menginspirasi bagi yang belum haji..

    I like this mbak Hana...

    Barokallohufik mbak hana...
    semoga menjadi haji yang mabrur...

  2. comment_type != "trackback" && $comment->comment_type != "pingback" && !ereg("", $comment->comment_content) && !ereg("", $comment->comment_content)) { ?>
  3. Comment by retno | 2010/05/12 at 14:49:35

    Mbak Hana.....kok ada nama saya disini..hehehhe.
    Aduuuuhhhh jadi maluuuuuuu.....keinginan kami, ditunda2 dengan banyaaakkkk alasan...eh ibu penjual gorengan tersebut...tanpa banyak alasan, bisa berangkat haji. Semoga Bliau dan juga mbak Hana serta mas Rahmat menjadi haji dan hajjah yang mabrur amiiin...


comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

Trackbacks & Pingbacks »»

  1. Comment by lathifatul | 2010/01/28 at 17:11:09

    Subkhanalloh... tulisan ini menginspirasi bagi yang belum haji..

    I like this mbak Hana...

    Barokallohufik mbak hana...
    semoga menjadi haji yang mabrur...

  2. comment_type == "trackback" || $comment->comment_type == "pingback" || ereg("", $comment->comment_content) || ereg("", $comment->comment_content)) { ?>

    Trackbacks & Pingbacks »»

    1. Comment by retno | 2010/05/12 at 14:49:35

      Mbak Hana.....kok ada nama saya disini..hehehhe.
      Aduuuuhhhh jadi maluuuuuuu.....keinginan kami, ditunda2 dengan banyaaakkkk alasan...eh ibu penjual gorengan tersebut...tanpa banyak alasan, bisa berangkat haji. Semoga Bliau dan juga mbak Hana serta mas Rahmat menjadi haji dan hajjah yang mabrur amiiin...

    Leave a Reply »»