Go Beyond Limits

Tulisan saya kali ini sebenarnya meminjam tema  "tupperware" yang pernah aku baca dan dengar pada suatu acara. Boleh dan sah-sah saja meminjam tema ini dikarenakan ada petuah didalamnya. Bukan karena aku promosi dagangan disini, namun lebih ke "value" dari kata-kata itu bisa menyemangati aku untuk bisa maju, percaya diri, dan terus bermanfaat buat orang lain. Sebagai seseorang yang terbiasa menjiplak ide dan terinspirasi dengan ide seseorang diharuskan menuliskan sumber agar tidak disebut "plagiator" (alasan buat pembetulan diri sendiri-red).

Oh ya pas saya mulai menulis paragraf awal, ada temen saya dateng dan nyeletuk "ooo nulis to, apa itu go beyond limits mbak" . Seingatku kata-kata itu artinya "mampu membuka/melewati gembok-gembok", gembok apaan ya ? disitu limits adalah batasan dan disini aku artikan sebagai gembok, gembok apa? gembok-gembok kehidupan yaitu rintangan itu sendiri. Dalam kehidupan ini semua orang dihadapkan pada masalah gembok (baca rintangan-red) sehingga orang yang berhasil adalah yang bisa membuka gembok-gembok tersebut.

Sahabatku, pernahkah anda merasa berada dititik Nadir ? bagaimana rasanya ? pasti rasa rendah diri, rasa menjadi orang yang paling menderita didunia ini atau merasa Tuhan tidak adil ? Saya membaca sebuah news Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya, dan angka itu semakin bertambah setiap tahunnya. Disini saya tidak akan menampilkan data bunuh diri sampai tahun 2010, karena yang akan saya ambil bukan sisi statistiknya, tetapi sisi maknanya.

Dalam renunganku orang-orang yang bunuh diri itu mungkin orang-orang yang berada di titik nadir, dan mereka tidak bisa mengatasinya. Ada yang karena masalah tekanan ekonomi, masalah percintaan, masalah dendam , dsb. Semua manusia pasti pernah merasakan berada pada titik nadir meskipun  juga pernah merasakan berada dititik Zenith. Ingat pepatah jawa "ojo dumeh" yang artinya (=jangan mentang-mentang, bahasa gaulnya "jangan sok lo"-red) ojo dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya-red), ojo dumeh ayu, ojo dumeh ganteng, ojo dumeh bla...bla...bla.....

Dalam Islam juga diajarkan jangan hidup terlalu bergembira dan jangan terlalu sedih, yang sedang-sedang saja karena dalam Islam dalam menghadapi senang dan sedih adalah dengan syukur dan sabar, sebagaimana Firman Allah dan juga Hadist Rasul :

''Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.'' (QS Al-Baqarah: 45).

"Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999 dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)

Teringat cerita dari sahabat saya , saat dia berada dititik nadir, ibaratnya tidak ada satupun manusia yang membenarkan dia hampir semua makhluk dimuka bumi ini menyalahkan dia kalau ibarat pepatah jawa "dadio godhong emoh nyuwek, dadio banyu emoh nyawuk" (sudah tidak mau bertegur sapa = wes ora gelem sapa aruh-re) , kebetulan dia sesama perempuan yang biasanya banyak tersalahkan......(pendapat penulis sendiri nich-red). Alhasil masa-masa dia berada dititik nadir kurang lebih 2 tahun, mungkin lebih bisanya cuma menangis, meratap, dsb. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga (sakit banget tentunya-red). Banyak hal-hal dilakukan dia sebagai pelarian, masih untung tidak kebangetan. Dengan keyakinan akan Ke Maha Rahman dan RahimNya,  dia bisa merubah cacian itu sebagai tabungan menumbuhkan semangat, misalnya apabila dia dicaci "dasar kamu wanita gak ......" dia berusaha mengolah agar "gak....." dihilangkan gak nya sehingga tinggal ........ nya. Tetapi keterpurukannya yang lama itu membuat dia menjadi wanita tangguh (wonder woman-red). Sampai-sampai secara tidak sengaja saat lama aku tidak bertemu dia dan kemudian bertemu kembali dia bisa mengatakan "Tuhan memang Maha tahu yang terbaik buat hambanya, kalau aku waktu itu gak mengalami musibah caci maki, tuduhan, dsb  itu mungkin aku sudah menjadi orang sombong angkuh nan jutek", sekarang aku bisa menjadi begini karena aku dididik oleh Allah langsung dari bermacam-macam kesalahanku dan dosaku. "Allah tau kemampuanku menghadapi ini semua, sehingga Allah menurunkan cobaan itu buat aku bukan buat si Fulan, dsb". Lalu, bagaimana kamu menghadapi caci maki atau predikat yang terlanjur melekat ditubuhmu ?, predikat yang mana ? predikat yang dijuluki oleh manusia-manusia itu?  "kalau yang dituduhkan ke aku adalah bener maka dia tetap saja salah, dalam agama gak ada kok perintah "caci makilah saudaramu yang salah, atau kucilkanlah saudaramu yang salah, atau musuhilah saudaramu yang salah, yang ada adalah menganjurkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar (QS At-Taubah : 71), tetapi kalau yang dituduhkan ke aku adalah salah maka itu fitnah, kembali kepada yang menuduhkan" jadi selagi masih ada iman dan Islam di dada ini, maka tidak ada yang perlu aku takutkan, "Go Beyond Limits". 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak pernah ingkar akan janji-janjinya itu, buah kesabaran itu adalah datangnya beberapa titik balik yang tidak terkira. "Nah, kalau masalah nikmat kalau dihitung-hitung jari ini sudah tidak muat lagi, aku malu menghitungnya" katanya. Dan ternyata banyak sekali nikmat Allah itu yang membuat aku ngiri juga (kan banyak to orang yang saat melihat temannya bahagia dia iri, kalau dia melihat temannya susah dia tepuk tangan atau jangan-jangan yang iri aku sendiri ya-red). katanya lagi "ststststs nikmat yang paling aku rasakan saat ini adalah semakin dekatnya aku sama Allah, nah kehadiran Tuhan dalam diri kita ini yang paling besar buat aku...tapi jangan bilang-bilang ya".....

Tidak banyak lho, manusia yang berada dititik nadir masih bisa berfikir jernih, ingat dari mana asal-usulnya, siapa yang menciptanya, tujuan dari dia diciptakan, dsb. Kenapa? kalau banyak yang ingat pastinya angka bunuh diri di muka bumi ini akan menurun, tidak semakin naik. Dan kalau dia melakukan bunuh diri berarti dia benci Tuhannya kan? "kenapa aku diciptakan hanya untuk menderita?" Na'udzubillahimindzalik

Saat aku merenungi cerita tadi, ternyata semangat "Go Beyond Limits" itu sangat menginspirasi sahabatku, dipadukan dengan keimanan dia, kesabaran dia, menjadikan dia wanita yang tangguh, yang mampu menjebol gembok-gembok yang selama ini membelenggunya, mampu mengispirasi dirinya tidak terpengaruh dengan "godaan syaitan" yang tidak akan rela melihat manusia hidup dengan damai, sehingga dia selalu mengatakan "A'udzhubillahi minasyaithonirrajim" apabila ada orang yang mencaci makinya lagi karena banyak sekali syaitan jaman modern sekarang ini berbentuk manusia, berbentuk duit, teman, anak, yang akan mematahkan semangatnya untuk naik kelas ke jenjang periode yang lebih tinggi yaitu "Tawadhzu'". Semoga kamu bisa sahabatku, doaku selalu menyertaimu (semoga yang mendoakan lebih dari bisa-red)

Nah, buat teman-teman yang baru atau sedang merasakan berada di titik nadir "Go Beyond Limits" dan jangan lupa selalu ingat bahwa Sabar dan sholat adalah penolong kita. (ini janji Allah lho-red)

Leave a Reply »»