Jiwa Kepemimpinan yang "Khas"

Pagi ini seperti biasa, sesampai di kantor mengawali aktifitas rutin dengan wajah ceria dan semangat, apalagi di Hari Jumat. Setelah membuka lap top,seperti biasanya selalu ada senyuman yang tidak pernah bosan menyapa para karyawan di kantorku sebelum bekerja. Sosok yang sangat membuat kami selalu bersemangat, beliau adalah Bapak Bachnas. Pejabat bintang tiga, eh maaf wakil Rektor III. Beliau yang hampir setiap hari, pagi , siang, kadang sore hari selalu menyapa kami dan dengan bahasa santai, bersahabat dan semangat. Beliau selalu memberikan instruksi-instruksi dengan gaya kepemimpinannya yang santai tapi serius. Sungguh diusianya yang sudah tidak remaja lagi (ups-red) beliau tetap eksis.

Jumat yang ceria ini, Beliau mengatakan bahwa kartu untuk ipad, modem, iphone, dsb sudah beres. Juga gambaran tentang AIPT yang sebentar lagi akan mengunjungi kami. Selalu segar dan cerah dengan batik tulisnya yang sangat bagus. tetapi bukan karena batiknya tentu saja yang membuat para karyawan akrab dengan beliau. namun karena kehangatannya pada karyawan dengan gaya kepemimpinannya yang membuat kami selalu enjoy melakukan instruksinya.

Jiwa kepemimpinan yang seperti itu mungkin yang kami butuhkan sebagi bawahan, menyapa, ngaruhke, teladan, senyum, sapa. Memerintah tapi yang disuruh ndak merasa kalau diperintah, selalu mengawali kalimat dengan coba, minta tolong, oh ya record kmrn begini begitu bagaimana dengan hasilnya sekarang ?. Sanjunganku bukan saja subyektif, aku hanya merasa enak jika diperintah , simpel sebenarnya bukan ?

Perintah dari atasan biasanya merupakan suatu tekanan, atau suatu kewajiban yang kadang membuat kita merasa tertekan, tp jika kalimat perintah itu seakan-akan di kemas menjadi lebih cantik, dan caranya juga bersahabat, maka yang melaksanakan akan menjadi santai dan hasilnya juga tercapai, tidak banyak energy terkuras dan membuat jiwa menjadi senang.

Pagi ini kata sederhana diucapkan Beliau saat mamasuki ruangan ku "Apabila kita stress, maka pandangan kalian akan sempit, sehingga kalian tidak bisa berfikir luas, yang ada kalian akan menemui kebuntuan, maka hadapilah dengan senyuman, maka akan melahirkan positif thinking". Tidak bisa persis seperti perkataan beliau, namun intinya begitu.

Saat kita sebagai manusia sudah tiada, teladan yang akan membekas, apalagi teladan itu mendorong untuk kita maju. Semoga kita menjadi teladan-teladan minimal buat keluarga kita.

Leave a Reply »»